Berita Terbaru

Mobile

Marketing

Internet

Berita

Showing posts with label Startup. Show all posts
Showing posts with label Startup. Show all posts

GoJek Akui Kehabisan Uang gara-gara Tarif Murah

Perusahaan ride sharing Gojek kini sedang berdiskusi dengan calon investor baru. Mereka mengaku membutuhkan tambahan dana, seiring dengan besarnya subsidi yang dikeluarkan untuk membuat tarif tetap murah.

Saat ini, Gojek memiliki armada sekitar 200.000 orang pengemudi ojek. Perusahaan tersebut bersaing keras dengan Grab dan Uber demi menguasai pangsa pasar di Indonesia.

Kendati demikian, Gojek tak bisa terus-terusan "membakar" uang alias memberi subsidi agar tarif mereka bisa murah.

“Kalau terus begitu (memberi subsidi), akhirnya Anda akan kehabisan uang,” ujar pendiri sekaligus CEO Gojek Nadiem Makarim, sebagaimana dilansir KompasTekno dari Reuters, Senin (2/5/2016).

Pria lulusan Harvard Business School itu menambahkan, salah satu solusi masalah tersebut adalah mencari dana tambahan dari para investor. Setelah mendapatkannya, dia akan memakai dana itu untuk mengembangkan lini bisnis.

Saat ini, menurut Nadiem, sudah ada sejumlah perusahaan modal ventura dan perusahaan investasi yang menaruh minat. Perusahaan-perusahaan tersebut tertarik pada Gojek karena ukuran dan potensi yang dimilikinya.

Nadiem tak mengungkap perusahaan mana saja yang kini sedang berdiskusi membicarakan investasi baru itu.

Sekadar diketahui, kehadiran GoJek dan layanan transportasi berbasis aplikasi lain memicu banyak kontroversi. Bahkan pada Maret lalu ribuan pengemudi taksi melakukan unjuk rasa dan meminta sebagian dari aplikasi ride sharing ditutup.

Namun sebesar-besarnya unjuk rasa tersebut tak akan membuat Nadiem sakit kepala. Setidaknya, fokus pemikiran pendiri Gojek itu bukan pada masalah tersebut.

“Buat saya, masalah dan tantangan terbesar saat ini adalah menghitung skala hal ini. Hal yang paling sulit adalah soal teknologi, sebab pemikiran mengenai teknologi-lah yang membuat saya jadi susah tidur,” pungkasnya.

Dikutip : Kompas

Grab Uji Layanan Pesan-Antar Makanan

Layanan ride sharing Grab baru saja meluncurkan fitur baru bernama GrabFood. Sesuai dengan namanya, pengguna bisa memakai fitur ini untuk mendapatkan layanan pesan-antar makanan.

Pengguna mesti memperbarui aplikasi Grab terlebih dulu supaya bisa mencoba fitur pesan-antar makanan tersebut. Bila memakai ponsel Android, pastikan memperbarui aplikasi Grab ke versi 4.2.1, sedangkan untuk iOS pastikan aplikasi Grab sudah versi 4.2.0.

Klik tautan ini jika ingin memperbarui aplikasi di platform Android, atau klik tautan ini jika ingin memperbarui aplikasi di platform iOS.

Pantauan KompasTekno, Senin (2/5/2016) dini hari, GrabFood masih merupakan layanan uji coba (beta) dan hanya tersedia di wilayah tertentu di Jakarta saja. Areanya pun masih terbatas di sekitar Sudirman Central Business District (SCBD), Semanggi, Senayan dan Kuningan.

Selain itu, pengguna cuma bisa memesan makanan di jam-jam tertentu saja. Selama masa uji coba atau beta itu, pemesanan dibuka pada pukul 11.00 siang dan ditutup pada pukul 14.00 siang.

KompasTekno sudah mencoba membuka aplikasi Grab pada pukul 00.30 dini hari dan tidak menemukan fitur GrabFood di aplikasi utama Grab.

Bersaing dengan GoFood

Seperti halnya layanan pesan-antar makanan GoFood milik Go-Jek, Grab juga mematok tarif untuk setiap pengantaran. Saat ini tarif mereka adalah Rp 20.000 untuk sekali antar.

Layanan pesan-antar makanan GrabFood akan bersaing dengan layanan serupa milik Go-Jek yang telah dirilis lebih dahulu.

Dua layanan berbasis aplikasi itu kini saling "sikut-sikutan" dengan merilis layanan yang serupa. Sebelumnya, Go-Jek diketahui meluncurkan layanan baru berupa jasa rental mobil yang diberi nama Go-Car, layanan itu digadang-gadang sebagai pesaing GrabCar.

Kini, giliran Grab yang merilis layanan pesan-antar makanan GrabFood. Belum diketahui kapan masa uji coba layanan pesan-antar makanan dari Grab ini berakhir agar bisa diakses kapan saja dan di mana saja.

Dikutip : Kompas

Go-Jek Bersiap Luncurkan Go-Car

Start up transportasi asal Indonesia, Go-Jek, berencana memperluas layanannya dengan menyediakan moda transportasi sewaan berbasis kendaraan roda empat (mobil). Layanan itu akan diberi nama Go-Car.

Kabar tersebut datang dari Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Andri Yansyah.

Menurut Andri, seperti dikutip KompasTekno dari The Jakarta Globe, Kamis (31/3/2016), Go-Jek sedang menyiapkan sistem yang sama dengan yang dipakai oleh Grab.

"(Go-Jek) menanyakan syarat bagaimana prosedur untuk membuat Go-Car, mereka berencana bekerja sama dengan perusahaan taksi, saya bilang silakan saja," kata Andri sehari setelah bertemu dengan CEO Go-Jek, Nadiem Makarim.

Menurut Andri, Go-Jek hanya perlu membicarakan rencananya itu dengan perusahaan taksi dan Organda untuk berdiskusi soal tarif.

"Kami akan mempelajari hasil studinya dan memberi izin saat semuanya beres," kata Andri.

Dikatakan oleh Andri, Go-Jek tidak perlu lagi membuat badan hukum atau mengurus izin baru karena operator-operator taksi yang akan diajak bekerja sama telah memilikinya.

Layanan taksi berbasis aplikasi belakangan kian marak di Indonesia. Selain Grab, Uber juga diketahui memiliki layanan tersebut. Keduanya sempat mendapatkan penolakan dari pelaku di industri taksi konvensional.

Pada akhirnya, pemerintah mengambil jalan tengah dengan meminta agar setiap start up transportasi yang beroperasi di Indonesia harus memiliki badan usaha tetap atau bekerja sama dengan perusahaan/koperasi lokal yang sudah memiliki badan hukum sehingga bisa dikenai pajak.

Dikutip : Kompas

Deliveree Hadirkan Armada Sepeda Motor

Kepadatan lalu lintas di kawasan perkotaan membuat sepeda motor dianggap salah satu solusi bagi masyarakat yang mengutamakan waktu tempuh. Wajar bila kemudian layanan transportasi memakai motor seperti ojek maupun ojek online ramai digunakan masyarakat perkotaan.

Sadar akan peran sepeda motor di tengah kepadatan lalu lintas, layanan logistik berbasis aplikasi Deliveree mengadopsi armada motor ke dalam platformnya.

Hingga saat ini, Deliveree mengklaim telah menyediakan lebih dari 1.000 armada truk, pikap, van, MPV, dan city car yang siap melayani seluruh area Jabodetabek. Sayangnya, untuk armada sepeda motor pihak Deliveree tidak menyebutkan jumlahnya secara pasti.

Penambahan armada sepeda motor diklaim sebagai terobosan terbaru Deliveree untuk menghadirkan pilihan kendaraan dengan harga bersaing. Layanan logistik yang disediakan Deliveree tersedia untuk pelanggan bisnis maupun individual yang tersebar di seluruh Jabodetabek.

“Salah satu fokus kami adalah menawarkan berbagai jenis armada sesuai kebutuhan pelanggan dengan harga bersaing yang dihitung berdasarkan jarak tempuh, sehingga pelanggan hanya perlu membayar sesuai dengan kendaraan dan jarak pengiriman, tanpa tambahan lainnya,” ujar Mega Yanuar, Manajer Operasional Deliveree.

Untuk kendaraan roda empat, masing-masing kendaraan memiliki tarifnya sendiri. City car, misalnya, menerapkan biaya flat Rp50.000 untuk pengiriman dengan jarak 1-5 km. Jika jarak mencapai 15 km, Deliveree menetapkan tarif Rp4.500 per km. Sedangkan untuk jarak lebih dari 15 km, Deliveree menetapkan tarif Rp4.000 per km.

Sedangkan untuk kendaraan bermotor, tarifnya jauh lebih murah. Biaya minimal untuk jarak 1 hingga 5 km pertama adalah Rp5.000 per km, sedangkan selebihnya dikenakan tarif Rp3.000 per km. Tarif yang murah nampaknya jadi senjata bagi Deliveree untuk menarik pasar.

Deliveree meluncurkan layanannya di Jakarta pada bulan September tahun lalu. Sejak itu, Deliveree berkembang cukup pesat hingga telah menjadi salah satu layanan pengiriman paket yang terpercaya dengan beragam pilihan armada. Dukungan juga diberikan oleh layanan pelanggan yang siap melayani pelanggan selama tujuh hari penuh, mulai pukul 07.00 pagi sampai 23.00 malam.

“Kendati menjadi perusahaan teknologi, tugas utama kami adalah mendengarkan setiap kebutuhan pelanggan dan berusaha sebaik mungkin untuk memberikan layanan terbaik yang memenuhi kebutuhan tersebut. Sepeda motor adalah layanan tambahan yang akan membantu pelanggan dengan kebutuhan barang, dokumen, kebutuhan dagang, makanan, bunga, dan bingkisan kecil lainnya,” tambah Mega.

Layanan pengiriman barang menggunakan sepeda motor secara langsung telah disediakan oleh GO-JEK lewat GO-SEND yang disusul oleh Grab lewat GrabExpress. Mungkinkah Deliveree ingin menyaingi kedua perusahaan aplikasi transportasi tersebut di bidang pengantaran barang cepat dengan menghadirkan sepeda motor jadi salah satu armadanya?

Dikutip : Techinasia

Aplikasi Cashback Paprika Luncurkan Layanan di Jakarta

Aktivitas promosi dengan memberikan diskon atau cashback, seringkali dilakukan para pemilik bisnis untuk meningkatkan jumlah pelanggan. Sayangnya, aktivitas tersebut terkadang tidak memberi manfaat yang berkelanjutan, karena sang pemilik bisnis tidak bisa mendapat data yang lengkap tentang konsumen yang memanfaatkan promo tersebut.

Paprika, sebuah platform cashback asal Medan, mencoba mengubah fenomena tersebut. Dengan menggunakan aplikasi mobile Paprika, yang sudah tersedia untuk platform Android dan iOS, seorang konsumen bisa mendapatkan cashback hanya dengan menunjukkan kode QR di setiap gerai yang bekerja sama dengan Paprika. Di sisi lain, pemilik bisnis yang menjadi rekanan Paprika pun bisa mendapatkan data setiap pengguna yang mendapatkan cashback, dan menggunakannya untuk meningkatkan pelayanan mereka.

Pada bulan September 2015 lalu, Paprika baru mempunyai 5.000 pengguna terdaftar yang melakukan 2.000 transaksi, dengan total nominal Rp300 juta. Saat ini, mereka telah mempunyai 35.000 pengguna, dan memfasilitasi 45.000 transaksi dengan total nominal Rp7 miliar. Dengan prestasi tersebut, pada tanggal 23 Februari 2016 yang lalu mereka pun memutuskan untuk meluncurkan layanan mereka untuk para pengguna di wilayah Jakarta.

Target 2.000 merchant di tahun 2016

Proses yang mudah untuk mendapatkan cashback, menjadi kunci kesuksesan Paprika. Setiap berbelanja minimal Rp20.000 di gerai yang bekerja sama dengan Paprika, pengguna akan langsung mendapatkan Paprika Point (PP). Jumlah poin yang bisa didapat berkisar antara 10 hingga 30 persen dari total nominal yang dibelanjakan pengguna.

Apabila seorang pengguna telah mempunyai 10.000 PP (senilai dengan Rp10.000), mereka pun bisa menggunakannya untuk berbelanja di seluruh gerai rekanan Paprika. Menariknya, tidak ada batas waktu untuk menggunakan PP, sehingga pengguna bisa memakainya kapan saja mereka mau.

Saat ini, telah ada 400 merchant di Medan dan Jakarta yang bekerja sama dengan Paprika. “Kami menargetkan untuk bermitra dengan 2.000 tempat usaha sepanjang tahun 2016 ini,” ujar Kalvin Yap, CEO Paprika, dalam press release yang diterima Tech in Asia.

Ketika kami mencoba menggunakan aplikasinya, kami menemukan beberapa restoran terkenal yang telah bekerja sama dengan Paprika, seperti Alegro, Ron’s Laboratory, dan Sushi Miyabi.
Serupa tapi tak sama

Dalam bisnis aplikasi cashback, Paprika akan bersaing ketat dengan Snapcart. Walau punya konsep bisnis yang serupa, keduanya sedikit berbeda dalam hal cara pemakaian. Untuk mendapatkan cashback, pengguna Paprika hanya perlu menunjukkan QR code kepada pemilik gerai, sedangkan pengguna Snapcart harus melakukan scanning terlebih dahulu pada struk belanja mereka.

Secara kemitraan, keduanya juga punya perbedaan. Paprika melakukan kemitraan dengan para pemilik gerai. Karena itu, mereka harus menjalin kemitraan baru apabila mereka ingin mengembangkan usaha di lokasi yang lain. Sedangkan Snapcart langsung melakukan kemitraan dengan produsen dari suatu produk, sehingga di mana pun produk itu dijual, pengguna Snapcart tetap bisa mendapatkan cashback.

Perbedaan lain di antara keduanya adalah kemungkinan untuk menguangkan cashback. Pengguna Snapcart bisa menukarkan poin yang mereka miliki apabila telah terkumpul sebesar Rp52.500, yang akan langsung dikirim oleh Snapcart ke rekening pengguna. Sedangkan pengguna Paprika tidak bisa menguangkan poin mereka sama sekali, dan harus membelanjakannya di gerai-gerai yang menjadi rekanan Paprika.

Selain Snapcart, Paprika juga harus bersaing dengan penyedia program cashback lain yang juga telah beroperasi di Indonesia, seperti ShopBack dan HomeTesterClub.

Dikutip : Techinasia

Tinggal Tawarkan Booking Hotel dengan Kualitas Terjamin dan Harga Terendah

Di tengah merebaknya layanan booking hotel dengan harga yang bersaing, Tinggal percaya diri mengusung layanan serupa ke tanah air pada pertengahan Februari 2016 lalu. Arjun Chopra, Co-Founder Tinggal mengatakan bahwa alasannya menggarap pasar Indonesia karena besarnya potensi yang ditawarkan dengan luasnya daerah dan kategori penduduk yang beragam.

Sebelum membangun bisnis Tinggal, Arjun bercerita bahwa pekerjaan sebelumnya yang banyak di Indonesia dalam delapan tahun belakangan membuatnya merasa percaya diri dengan celah yang ada dari layanan booking hotel dari startup lainnya yang sudah beroperasi sebelumnya.
Investasi besar dari ekosistem perhotelan.

Meski baru berdiri, Tinggal telah mendapat dukungan dana investasi yang lumayan besar dari Mangrove Capital Partners, wirausahawan kawakan Vikas Saxena, serta wirausahawan senior Prafulla Mathur yang merupakan pendiri dan CEO WudStay, serta dari vc Simile Venture Partners yang berbasis di Luxemburg. Nilai yang diinvestasikan mencapai US$1 juta (sekitar Rp13,3 miliar) untuk operasional Tinggal.

Tujuan dari investasi ini adalah untuk menjadikan Tinggal sebagai penyedia layanan booking hotel nomor satu di kota-kota tujuan destinasi wisata utama di Indonesia. Lebih lanjut, Mark Tluszcz, CEO Mangrove Capital Partners mengatakan bahwa Tinggal menandai masuknya perusahaan ke pasar Internet Indonesia yang tumbuh pesat. Dan ia juga yakin bahwa Tinggal dapat memberi pilihan kompetitif bagi para pelancong.

Fokus pada lokalisasi bisnis

Pendanaan yang besar membuat Tinggal dapat leluasa mengembangkan bisnis. Saat ini Tinggal sudah memberikan pilihan hotel di empat kota, yakni Malang, Bandung, Jakarta, dan Bali dengan sekitar 50 hotel di dalamnya. Dalam waktu dekat Arjun berencana melakukan ekspansi ke Yogyakarta dan Surabaya di dalam situsnya.

Untuk tim sendiri, saat ini sudah ada sembilan orang di dalamnya dan menargetkan penambahan tim mencapai 35 orang di 2016 ini. Tim Tinggal mayoritas berada di Bali dan Jakarta. “Untuk menciptakan produk yang dapat memuaskan keinginan pelanggan, Tinggal memerlukan sumber daya mumpuni,” tambahnya.

Selain fokus pada penambahan kota-kota, Arjun juga optimis untuk lokalisasi bisnis sesuai dengan kebutuhan pasar. Ia mengatakan:

Fokus menjadi kata kunci utama yang sering terabaikan oleh banyak startup. Terlebih di Indonesia dengan kondisi pasar yang berada di kelas menengah dan sangat beragam, dibutuhkan keseriusan untuk mendalami apa yang diinginkan dan dibutuhkan pasar agar bisnis terus berkembang dan tidak mundur di tengah jalan.

Oleh karena itu, Tinggal dalam kurun waktu tiga hingga empat bulan mendatang belum akan fokus pada monetisasi, melainkan penetrasi pasar dan penelitian perilaku konsumen lokal agar produk sesuai dengan pasar.

Strategi memenangkan kompetisi

Bagaimanapun sudah ada pemain di ranah ini seperti ZenRooms milik Rocket Internet. Antara ZenRooms dan Tinggal kurang lebih memiliki tampilan situs yang serupa, namun kota lebih beragam hingga ke negara di Asia telah dirambah oleh ZenRooms, sedangkan Tinggal memang fokus untuk beroperasi di destinasi wisata utama di dalam negeri.

Menyadari adanya kompetisi, Arjun mengatakan bahwa timnya lebih mementingkan user experience. “Bila pengguna merasa terbantu dengan layanan yang ditawarkan Tinggal, akan menarik pengguna baru lainnya yang akan kembali menggunakannya,” tambahnya.

Ditambah dengan harga yang kompetitif untuk setiap hotel yang ditawarkan, Tinggal optimis konsumennya bukan hanya dari kategori B2C, melainkan juga B2B dengan korporat yang menginginkan budget hotel untuk kebutuhan bisnisnya.

Persaingan bisnis booking hotel dengan harga murah dan kualitas mumpuni sudah lebih dahulu sukses dilakukan OYO Rooms asal India. Bila memang ZenRooms dan Tinggal berhasil menggaet pasar dengan pilihan kota dan hotel yang sangat menarik, apakah startup lainnya dengan layanan travel akan menyontek cara ini?

Dikutip : Techinasia

KelasKita Ingin Menjadi Komunitas Edukasi Terbesar di Indonesia

Pendidikan merupakan kebutuhan semua orang. Sayangnya, konten pendidikan yang baik belum tersebar secara merata di Indonesia, sehingga terkadang sangat sulit untuk menemukan materi pelajaran yang berkualitas.

Hal itulah yang kemudian menjadi alasan bagi Ali Kusnadi dan M. Asep Indrayana (Indra) untuk membuat KelasKita di tahun 2013 silam. KelasKita sendiri merupakan sebuah situs untuk belajar online yang dipadukan dengan fitur-fitur menarik khas media sosial. Setiap pengguna KelasKita bisa berbagi dan mempelajari berbagai macam konten pendidikan yang berkualitas.
Fitur dan pelajaran yang beragam

Saat ini, KelasKita telah mempunyai beberapa fitur, seperti Kelas Online, Quiz, dan Tanya Jawab. Kelas Online merupakan fitur utama KelasKita, yang berisi materi-materi pelajaran dalam bentuk teks, gambar, maupun video. Kamu bisa memilih kelas yang ingin kamu ikuti berdasarkan jenjang pendidikan yang sedang kamu jalani, atau kategori pelajaran yang kamu suka. KelasKita sendiri mempunyai materi pelajaran yang sangat beragam, mulai dari materi Belajar Pemrograman, hingga materi Belajar Bahasa Arab.

Berbeda dengan Kelas Online, fitur Quiz berfungsi layaknya kertas ujian yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus kamu jawab. Berbagai jenis soal ada di sana, mulai dari soal yang serius seperti Test Kecerdasan Logika Otak, hingga soal tebak-tebakan seperti Tebak Judul Drama Korea. Ada juga fitur Tanya Jawab, yang merupakan tempat di mana kamu bisa berdiskusi dengan pengajar tentang materi yang sedang kamu pelajari.

Dikutip : Techinasia

KerjaDulu Terima Investasi dari MNC Group

Situs jejaring sosial karier, KerjaDulu hari ini mengumumkan bahwa mereka telah memperoleh investasi tahap awal kedua yang tidak disebutkan jumlahnya dari MNC Group. Dengan investasi strategis tersebut, KerjaDulu kini memiliki nilai post-money valuation sebesar US$5 juta (sekitar Rp66 miliar).

Sebelumnya, KerjaDulu memperoleh investasi dari Budi Setiadharma, Komisaris Utama PT. Astra Internasional sebesar “enam digit US$” pada Oktober 2014 silam.

Chris Liu selaku Co-Founder dan CEO KerjaDulu mengungkapkan akan menggunakan dana tersebut untuk pengembangan produk dan memperluas operasional. Sejak diluncurkan pada tahun 2014 silam, tim KerjaDulu terdiri dari 10 orang yang sebagian besar berada di Taiwan.

Hal itu bisa terjadi karena di sana lah Chris mendirikan jejaring sosial karier ini sebelum memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ia telah bekerja selama 20 tahun di Taiwan. Di sana ia sempat mendirikan C2 Network, sebuah jaringan media digital di luar rumah, sebelum akhirnya mendirikan KerjaDulu.

Jika dilihat situsnya, sampai sekarang KerjaDulu masih dalam status beta. Chris mengklaim bahwa KerjaDulu sekarang memiliki “sekitar 500.000 sampai 1.000.000 pengguna terdaftar.” Ia tidak mencatat jumlah pengguna aktif dengan alasan pencarian kerja bukanlah aktivitas yang dilakukan berulang-ulang.

Kemudian saat disinggung mengenai demografi dari pengguna KerjaDulu, Chris mengungkapkan “70 persen dari pengguna kita memiliki gelar sarjana.” Ia juga menambahkan apabila situsnya memiliki “65 persen pengguna yang datang kembali dan sekitar 11.000 lowongan pekerjaan.”

Chris mengklaim terdapat 30.000 perusahaan yang telah terdaftar di KerjaDulu. Akan tetapi dari angka tersebut hanya ada 388 perusahaan yang telah melakukan verifikasi. Beberapa perusahaan besar dan institusi yang telah bekerjasama dengan KerjaDulu adalah Sinar Mas Group, LINE, dan Universitas Indonesia.

Jadi, dengan investasi strategis tersebut, MNC Group berencana akan memanfaatkan platform KerjaDulu untuk melakukan perekrutan dan menggunakan media hiburan yang dimiliki untuk membantu memasarkan KerjaDulu.

“MNC memiliki lebih dari 40.000 karyawan dan sangat aktif melakukan perekrutan. Kita bisa menggunakan platform jejaring sosial karier KerjaDulu untuk merekrut orang-orang berbakat,” ungkap David Audy selaku Direktur MNC Group. David akan bergabung ke jajaran direksi KerjaDulu.

Dikutip : Techinasia

Ahlijasa, Juara Startuppedia ASEAN Challenge 2016

Fenox Venture Capital1 baru saja menyelesaikan rangkaian kompetisi Startuppedia ASEAN Challenge 2016 pada tanggal 23 Februari 2016 kemarin. Mengambil tempat di Studio 2 Cinemaxx, fX Sudirman, Jakarta, Fenox Venture Capital menggelar sebuah Demo Day yang merupakan acara final dari kompetisi tersebut. Startuppedia ASEAN Challenge 2016 sendiri adalah sebuah kompetisi yang dibuat Fenox Venture Capital untuk mengasah kreatifitas, sekaligus menghadirkan ide dari para pengusaha muda di wilayah ASEAN.

Dimulai sejak awal Februari 2016, Startuppedia ASEAN Challenge 2016 berhasil menarik minat 353 startup untuk mendaftar. Untuk bisa mengikuti Demo Day, tim-tim tersebut harus menjalani beberapa tahap seleksi, yaitu seleksi tahap awal, seleksi dengan virtual pitching melalui Skype, serta seleksi validasi ide bisnis (Validation Sprint). Fenox Venture Capital akhirnya menetapkan 5 tim terbaik untuk mengikuti Demo Day. Mereka adalah Porter, Ahlijasa, KlikDaily, Doktermana, dan My A One.

Untuk bisa memenangkan Demo Day, kelima startup tersebut harus memukau para juri yang terdiri dari orang-orang penting dalam dunia bisnis dan startup. Mereka adalah Anis Uzzaman (General Partner & CEO dari Fenox Venture Capital), Shinta Dhanuwardoyo (CEO dari Bubu.com), Billy Boen (Founder & CEO dari Young on Top Nusantara), Sandiaga Uno (Founder dari PT. Saratoga Investama), Stephanie Hermawan (Chief Executive Marketeers), Jeff Quigley (Regional Manager Fenox Venture Capital untuk kawasan Asia Tenggara), serta Kentaro Hashimoto (Program Manager dari GnB Accelerator).

Ahlijasa tampil sebagai pemenang

Selama Demo Day, setiap tim diberi waktu 5 menit untuk mempresentasikan startup mereka. Ahlijasa, sebuah layanan pemesanan jasa rumah tangga on-demand, ditetapkan sebagai pemenang. Startup yang didirikan oleh Jay Jayawijayaningtiyas dan Dimas Wijaya tersebut pun berhak akan hadiah utama berupa uang senilai $50.000 (sekitar Rp670 juta) dalam bentuk investasi.

Selain hadiah uang, Ahlijasa juga akan mendapatkan keuntungan-keuntungan lain, seperti kesempatan menjadi bagian dari program mentoring yang diadakan Fenox Venture Capital, bisa berkolaborasi dengan para founder startup di regional ASEAN, serta diekspos oleh media. Dengan kemenangan ini, Ahlijasa juga akan menjadi startup pertama yang bergabung ke dalam GnB Accelerator, program akselerator terbaru yang diluncurkan Fenox Venture Capital pada tanggal 22 Februari 2016 yang lalu.

Jeff Quigley, Regional Manager Fenox Venture Capital untuk kawasan Asia Tenggara, yang juga menjadi juri dalam acara Demo Day tersebut mengatakan kepada Tech in Asia kalau Ahlijasa bisa menjadi pemenang karena punya kepercayaan diri yang tinggi. “Semua tim yang masuk dalam Demo Day merupakan startup-startup yang belum dikenal, namun Ahlijasa bisa membuktikan kalau mereka bisa menyelesaikan sebuah masalah yang besar dan penting,” ujar Jeff.

Dikutip : Techinasia

Startup Asal Surabaya, Ngorder.com

Sebuah startup baru asal Surabaya ingin membantu para penjual online dalam mengelola pembukuan transaksi online mereka dengan sebuah layanan berbasis cloud bernama Ngorder. Startup ini dibentuk oleh Agus Eko Setiyono dan Alif Akbar Fitrawan

Dengan Ngorder pengguna bisa mencatat setiap pemesanan online yang terjadi. Data yang dicatat mulai dari nama pemesan, tanggal, nama produk, status pembayaran, hingga jenis pengiriman yang digunakan.

Ini adalah sebuah ide yang menarik untuk membantu para penjual online mengelola dan memantau transaksi penjualan mereka dengan lebih rapih. Khususnya penjual yang menjual produk mereka di berbagai situs marketplace maupun iklan baris.

Sayangnya Ngorder tidak terintegrasi langsung dengan situs-situs e-commerce tersebut. Artinya
pengguna harus tetap memperbarui status apakah pemesanan sudah dibayar, dikirim, dan diterima oleh pemesan.

Fitur lain yang ditawarkan adalah laporan analisis penjualan. Bentuknya berupa grafik penjualan dari hari ke hari. Dalam grafik tersebut pengguna bisa melihat berapa produk yang telah terjual dan jumlah keuntungan yang diperoleh.

Saat ini Ngorder masih dalam tahap beta dan akan meluncurkan versi final pada awal bulan depan. Untuk jumlah pengguna pun masih sangat minim. Agus mengungkapkan bahwa target utama mereka adalah para reseller, dropshipper, dan supplier jual beli online.

Di Indonesial, walau tersedia banyak situs marketplace dan iklan baris, belum banyak layanan yang menyediakan pengelolaan bisnis online. Salah satu startup asal Thailand yang menjadi kompetitor Ngorder secara tidak langsung adalah Page365.

Disinggung mengenai model bisnis, Agus mengungkapkan bahwa ia menggunakan model bisnis freemium. Artinya layanan Ngorder bisa digunakan gratis. Namun, untuk bisa menikmati semua fiturnya tanpa ada batasan jumlah pengguna dan transaksi, pengguna harus membayar Rp100.000 per bulan. Tarif yang terjangkau untuk bisnis online yang tidak memerlukan toko fisik.

Bagaimanapun tantangan terbesar untuk produk seperti ini adalah akuisisi pengguna yang sedang menjadi fokus utama dan PR besar bagi Agus dan Alif. Ke depannya, Agus juga ingin menambahkan lebih banyak fitur dan juga meluncurkan versi mobile untuk Android dan iOS.

Dikutip : TechAsia

Tokopedia dan Traveloka adalah Startup Pengiklan TV Terbesar Tahun 2015

Berdasarkan data Adstensity, belanja iklan TV oleh layanan e-commerce diperkirakan menembus angka Rp 1,792 Triliun sepanjang tahun 2015.

5 Startup Indonesia Terpopuler Sepanjang Tahun 2015 Tiga Startup Indonesia Yang Segera Menyandang Status Unicorn Tokopedia Gelar Roadshow Di Sepuluh Kota “Lucky Deal” Menjadi Amunisi Tokopedia Untuk Ciptakan Traksi Pengunjung.

Indonesia sebagai negara berkembang dengan populasi yang masif selalu menjadi negara dengan potensi menggiurkan untuk berbagai sektor industri, termasuk e-commerce. Berdasarkan data Adstensity, sepanjang tahun 2015 kemarin layanan e-commerce secara total tercatat menghabiskan sekitar Rp 1,792 Triliun untuk belanja iklan di televisi. Tokopedia sendiri menduduki posisi teratas dengan biaya belanja iklan yang dihabiskan mencapai lebih dari Rp 559 miliar.

Tahun 2015 kemarin bisa dibilang adalah tahun untuk industri e-commerce. Pertumbuhan ekosistem yang kian matang dan juga drama yang muncul dari berbagai sisi mewarnai perjalan e-commerce Indonesia tahun lalu. Munculnya berbagai pemain baru pun tak bisa dilupakan, seperti Matahari Mall yang mendapat dukungan dari Grup Lippo.

Salah satu alasan pertumbuhan e-commerce yang semakin seksi adalah besarnya potensi pasar Indonesia sebagai negara berkembang  dengan populasi yang masif. Berbagai upaya pun dilakukan oleh para pelakunya demi merengkuh potensi sebesar-besarnya, termasuk melalui iklan di layar kaca (TV). Berdasarkan data Adstensity yang dikutip Indotelko, tercatat bahwa e-commerce Indonesia menghabiskan biaya belanja iklan untuk TV hingga Rp 1,792 Triliun.

Tokopedia, sebagai salah satu pemain lama, tercatat sebagai perusahaan yang mengalami pertumbuhan belanja iklan paling tinggi sepanjang tahun 2015. Ini tak lepas dari kampanye yang diluncurkan Tokopedia di akhir kuartal II tahun 2015 kemarin. Secara total, Tokopedia menghabiskan belanja iklan lebih dari Rp 559 Miliar dan kini berada di posisi puncak perusahaan e-commerce yang menghabiskan belanja iklan paling tinggi.

Traveloka berada di posisi kedua dengan dengan total belanja iklan yang dihabiskan sepanjang tahun 2015 lalu mencapai lebih dari Rp 553 Miliar.

Traveloka dan Tokopedia sendiri masuk ke dalam daftar 10 besar perusahaan yang menghabiskan belanja  iklan TV tinggi.  Dalam daftar 10 besar tersebut secara berurutan ada Djarum, Sampoerna, Pepsodent, Dettol, Lifebuoy, Frisian Flag, Indomie, Mie Sedaap, Tokopedia, dan Traveloka. Selain dua layanan e-commerce ini, sisanya adalah brand atau perusahaan FMCG.

Hal menarik lainnya adalah masuknya pemain baru Matahari Mall ke dalam daftar 10 besar perusahaan e-commerce dengan biaya belanja iklan TV yang tinggi. Dalam rentang waktu tujuh bulan sejak resmi meluncur, Matahari Mall berhasil menghabiskan biaya belanja iklan dengan total lebih dari Rp 83 Miliar.

Berikut adalah 8 besar pemain e-commerce dengan biaya belanja iklan TV yang tinggi berdasarkan data Adstensity:

  • Tokopedia (Rp 559 M)
  • Traveloka (Rp 553 M)
  • OLX (Rp 283 M)
  • Blibli (Rp 237 M)
  • Bukalapak (Rp 119 M)
  • Lazada (107 M)
  • Matahari Mall (Rp 83M)
  • Trivago (Rp 80 M)


Angka-angka yang disebutkan ini diperoleh Adstensity berdasarkan rekaman semua iklan TVC yang ada di 13 televisi nasional di Indonesia. Adstensity mencatat volume iklan dan harga iklan sesuai dengan data yang dipublikasikan (published rate), sehingga nilai yang tercatat adalah nilai bruto.

Dikutip : DailySocial

GO-JEK Perkenalkan Layanan GO-TIX

GO-JEK hari ini (29/12) memperkenalkan GO-TIX, layanan mobile-ticketing dan penyedia informasi acara-acara tertentu seperti musik, olahraga, seni dan budaya, atraksi, dan lainnya. Layanan baru ini juga memungkinkan pengguna untuk mengirim tiket dan pengantaran menuju lokasi acara.

GO-TIK

Layanan baru ini muncul pada pembaruan terbaru aplikasi GO-JEK versi 4.1 di Android. Pada menu GO-TIX terdapat tiga opsi utama, yaitu What’s Happening, On Sale, dan My Tickets. Opsi What’s Happening menyediakan informasi acara-acara yang ada di sekeliling kamu. On Sale menyediakan informasi tentang acara-acara yang memberikan diskon harga tiket. Dan My Tickets merupakan opsi tentang tiket-tiket yang pernah kamu pesan.

Saya sudah menghubungi pihak GO-JEK untuk informasi tarif dan area yang dicakup dari layanan GO-TIX tersebut. Akan tetapi dilihat dari informasi acara-acara yang disediakan tampaknya layanan ini baru hanya bisa dinikmati di Jabodetabek saja.

Pembaruan tarif GO-RIDE

Selain memperkenalkan GO-TIX, GO-JEK juga melakukan pembaruan tarif GO-RIDE di Jabodetabek sebagai berikut:


  1. Rp12.000 untuk perjalanan 1-10 KM
  2. Rp15.000 untuk perjalanan 1-15 KM
  3. Rp2.000 per KM untuk perjalanan di atas 15 KM


Sebelumnya pada bulan November lalu, GO-JEK menerapkan tarif datar Rp15.000 dengan jarak maksimum sampai 25 KM di JABODETABEK. Jadi tarif baru tersebut akan lebih murah apabila kamu menempuh jarak kurang dari 10 KM dan menjadi lebih mahal apabila kamu menempuh jarak lebih dari 15 KM.

Bagaimanapun dengan tarif baru ini, GO-JEK masih harus tetap bersaing dengan GrabBike dan layanan ojek online lain yang semakin menjamur di Indonesia.

Dikutip dari : Techinasia

Xwork Tawarkan Kemudahan Pemesanan Ruang Meeting

Salah satu pasar yang masih sepi pemain adalah penyedia layanan booking ruang meeting di kota besar, seperti Jakarta. Selain itu, proses pemesanan ruang rapat masih terbilang konvensional, yakni menelepon, menanyakan ketersediaan, dan berulang ke beberapa tempat hingga mendapat yang sesuai.

Masalah inilah yang mendorong tiga nama, William Budihardjo, bersama dua rekannya Andre Gunawan dan Andrew Anderson untuk mengembangkan sebuah solusi dengan nama Xwork di Jakarta. Startup ini resmi diluncurkan pada awal Desember lalu dan berada di bawah perusahaan PT Urban Solusi Digital.

William juga melihat besarnya potensi dalam pasar ini. Ia menambahkan, “Banyaknya ekspansi perusahaan asing maupun lokal, dan munculnya banyak perusahaan rintisan yang berbasis di ibu kota Jakarta membuat permintaan untuk sebuah tempat atau ruangan pertemuan meningkat,” tambahnya.

Menurutnya, Xwork dihadirkan sebagai sebuah solusi yang akan menjawab kebutuhan para eksekutif perkotaan akan tempat pertemuan yang nyaman dan lengkap. Solusi ini hadir dalam bentuk aplikasi untuk platform Android. Aplikasi ini menggunakan layanan berbasis lokasi atau GPS pada smartphone untuk menghubungkan pengguna dengan ruangan rapat terdekat yang tersedia untuk disewa.Segala detil ruang rapat baik ketersediaan, harga, lokasi, kapasitas, fasilitas serta gambar ruang rapat tersedia secara real-time di layar ponsel. Pengguna pun tak perlu repot melakukan cara manual menelepon atau mengirim permintaan tempat melalui e-mail.

Pendekatan melalui aplikasi yang diambil oleh Xwork dianggap para founder cocok dengan target
pasar yang ingin diraih, yakni para eksekutif urban yang kesehariannya sibuk dengan berbagai rapat. Dengan mengambil pendekatan langsung melalui aplikasi, Andre menjamin pengalaman pemesanan juga akan sangat mudah, dengan empat kali klik, dan waktu kurang lebih 45 detik, sebuah transaksi pemesanan ruangan sudah selesai dilakukan.

“Efisiensi merupakan kunci masyarakat dan eksekutif perkotaan, semua harus serba mudah dan cepat. Ditambah lagi, pembayaran pemesanan seluruhnya cashless melalui kartu kredit,” ujar William.

William menambahkan bahwa sistem pembayaran yang diadopsi Xwork mirip sistem pembayaran yang digunakan Uber yakni dengan sistem token dan one-click-payment. Ini berarti pengguna cukup sekali saja memasukkan detil kartu kredit untuk pembayaran pesanan ruangan pertama kali.

Setelahnya, sistem akan menyimpan detail pembayaran dan pemesanan selanjutnya hanya membutuhkan persetujuan pengguna sekali klik. Tim Xwork sendiri berkompetisi dengan CariRuangan yang juga memberi layanan serupa.

Menanggapi hal tersebut William berkilah bahwa Xwork mengedepankan efesiensi dan kemudahan melalui aplikasi ketimbang kompetitor yang masih berbasis situs.

Meski belum lama diluncurkan, XWork sudah memasang informasi ketersediaan ruang meeting di sekitaran Jakarta melalui situsnya. William menambahkan setidaknya sudah tersedia kurang lebih 70 mitra baik dari jasa perhotelan, gedung kantor, virtual office, serviced office, hingga co-working space dengan kurang lebih 125 ruangan tersedia untuk dipesan.

Sedangkan untuk 2016, mereka menargetkan untuk menyediakan setidaknya 1.000 tempat dan ruangan yang dapat dipesan melalui aplikasinya di Jakarta. Selain melebarkan ekspansi ke regional, Xwork juga ingin meluaskan cakupan jenis ruangan yang disewakan.

“Ke depan ada kemungkinan untuk menyewakan ruangan kantor atau coworking space yang berbentuk satu pilihan dengan harga sewa per hari, per minggu, bahkan per bulan,” tambah William. Ia juga menambahkan bahwa sudah terdapat portofolio untuk kota besar lainnya di dalam negeri, seperti Surabaya, Bandung, Bali, dan Yogyakarta.

Dengan celah bisnis yang masih besar untuk dikembangkan, William dan tim juga ambisius untuk melebarkan sayap di Asia Tenggara. “Jika kita mampu menguasai pasar Asia Tenggara saja, itu sudah sama besarnya dengan pasar Cina yang besar sekali. Ini akan menjadi kekuatan Xwork untuk ekspansi ke kawasan lain di dunia.”

Dikutip : Techinasia

Dengan Fitur Wedding Request, Weddinq Siap Bersaing

Berdasarkan data riset tahun 2013 dari Splendid Insight, industri pernikahan di Indonesia punya potensi mencapai angka Rp96 triliun per tahun. Hal tersebut telah menarik perhatian Aditya Dwi Putra untuk mendirikan Weddinq, sebuah situs penyedia vendor pernikahan. Nama situs ini mengingatkan saya dengan Weddingku, salah satu portal pernikahan terbesar di Indonesia.

Weddinq memungkinkan calon pengantin untuk mencari vendor-vendor pernikahan yang sesuai dan mereka perlukan. Seperti vendor pakaian, fotografer, suvenir, tempat pernikahan, dan lainnya. Dengan fitur Wedding Request, calon pengantin bisa mencari vendor yang sesuai dengan konsep dan dana yang mereka persiapkan. Sedangkan dari sisi vendor, mereka dapat menjual layanan-layanan yang mereka punya (listing) di situs Weddinq.

Sejak dibentuk pada bulan Juni lalu, Aditya mengklaim telah memiliki 800 vendor pernikahan. Ia juga mengungkapkan bahwa 70 persen vendor tersebut diperoleh melalui marketing tradisional, yaitu mencari dan menghubungi langsung satu per satu.

Sistem listing tersebut menjadi model bisnis Weddinq. Pihak vendor bisa membeli Premium Listing agar layanan mereka lebih mudah ditemukan oleh pengunjung situs Weddinq. Tarif Premium Listing diberi harga mulai dari Rp80.000 per bulan.

Di samping itu, Weddinq juga menyediakan fitur Wedding Plan dengan sistem Lead Generation. Artinya pemilik vendor bisa mendapatkan prospek konsumen yang sesuai dengan layanan rencana pernihakan yang mereka tawarkan. Tarif Wedding Plan sesuai dengan permintaan kategori dari vendor.

Bagaimanapun, Weddinq sebagai pemain baru harus berjuang keras dengan dengan pemain-pemain lama seperti BrideStory yang telah mendapat suntikan investasi Seri-A dan sudah melakukan ekspansi ke Singapura. Juga dengan Weddingku, portal pernikahan yang bisa dibilang menjadi salah satu pionir di Indonesia dan telah memiliki lebih dari 10.000 vendor pernikahan.

Dikutip : Techinasia

Jobsmart.com, coba kenali dirimu!

Bermunculannya startup mulai menjadi celah baru bagi para pencari pekerjaan. Namun di sisi lain, apa yang diharapkan startup kadang berbanding terbalik dengan calon pelamar yang masuk. Melihat banyaknya fenomena itu, Tiffany Effendy dan Peter Wijaya mendirikan JobSmart, platform pencarian kerja dengan fungsi filter, sehingga hanya menampilkan lowongan yang cocok dengan kamu.

“Kami memiliki fitur #KenaliDirimu, ini adalah semacam kuis yang akan diberikan kepada kandidat-kandidat sebelum mereka bisa melamar pekerjaan. Kuis ini untuk mengukur kepribadian dari kandidat,” tutur Tiffany.

Meminimalkan asal melamar

Berkat bermunculannya situs pencarian lowongan kerja, tak jarang kandidat mencoba berbagai posisi, bahkan hingga yang tidak sesuai dengan skill-nya. Hal ini dinilai Tiffany bisa merugikan perusahaan maupun pelamar.

Di satu sisi, perusahaan akan semakin kesulitan menemukan orang yang cocok untuk mengisi posisi tertentu. Di sisi lain kandidat juga sulit untuk menemukan pekerjaan impiannya.

Tiffany mengklaim, melalui sistem yang mereka miliki, JobSmart akan menguntungkan kedua belah pihak—baik perusahaan maupun pelamar.

Perusahaan bisa mendapat kandidat yang sesuai kebutuhan dan pencari kerja bisa mendapatkan pekerjaan impiannya.

Masih berfokus gaet pengguna

Meski JobSmart sudah berdiri sejak Mei 2015, layanan ini baru memasuki fase beta pada November lalu. Tiffany mengklaim bila di awal peluncurannya JobSmart telah menjaring 200 kandidat dengan 10.000 unique visitor. Jumlah pengguna yang masih terbatas itu membuat Tiffany dan timnya belum menjalankan monetisasi.

“Ke depan akan ada layanan berbayar untuk perusahaan yang dihitung berdasarkan poin. Nantinya perusahaan tinggal membeli saldo yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan,” jelas Tiffany.

Bila di awal sudah disebutkan JobSmart memiliki fitur #KenaliDirimu, yaitu kuis untuk mengetahui kepribadian calon karyawan, layanan ini juga tengah mempersiapkan Smart Hunter.

“Sederhananya seperti head hunter versi digital. Kandidat yang memenuhi kualifikasi akan mendapat notifikasi, dan mereka bisa menyatakan mau atau tidak dengan pekerjaan itu,” tambah Tiffany.

Beberapa fitur lain yang juga tengah dikembangkan layanan ini adalah Premium Hunter dan Smart Pick, namun sayang pihak JobSmart masih enggan menuturkan detailnya.
Menyeimbangkan jumlah pencari kerja dan perusahaan

Platform pencari kerja memang jumlahnya sudah cukup banyak tersedia di Indonesia, seperti Garyawan dan Qerja, serta nama-nama yang lebih mainstream seperti JobStreet dan JobsDB. Banyaknya kompetitor dinilai tidak menjadi batu sandungan utama bagi JobSmart.

“Kami cukup percaya dengan sistem pencocokan kami yang lebih akurat dibandingkan kompetitor,” tutur Tiffany.

Bicara mengenai target, JobSmart berencana untuk mengembangkan aplikasi mobile, dengan 1.000 perusahaan terdaftar dan 100.000 pengguna.

Apakah kamu pencari kerja yang kerap bingung menentukan ke mana langkah selanjutnya yang paling tepat? Bagaimana pendapat kamu mengenai layanan ini?

Dikutip : Techinasia

Stetoskoop Ingin Jadi Layanan Direktori Rumah Sakit


Startup yang bergerak di ranah layanan kesehatan memang bukan hal baru di Indonesia. Beberapa nama yang bergerak di ranah ini adalah AloDokter, UDoctor, dan TanyaDok dengan layanan konsultasi langsung dengan dokter yang bekerja sama.

Namun muncul nama baru di ranah ini dengan layanan berbeda, yakni Stetoskoop dengan layanan berupa database rumah sakit di seluruh Indonesia.

Stetoskoop diambil dari kata stetoskop yang menjadi lambang profesi dokter. Layanan terbaru ini resmi diluncurkan pada Kamis (17/12) kemarin, sedangkan situs Stetoskoop telah aktif sejak April 2015.

Denistya Sagita, Project Manager Stetoskoop, mengatakan bahwa lamanya jeda waktu dari aktif berdiri hingga resmi diluncurkan karena timnya sibuk melakukan riset database rumah sakit di seluruh negeri. Ia mengklaim hingga saat ini sudah terdapat lebih dari 2.000 direktori rumah sakit yang ada di Stetoskoop.

Sedangkan untuk tim, Denistya menambahkan bahwa Stetoskoop memiliki tiga orang tim dengan dua Founder lulusan universitas di luar negeri. Sayangnya ia enggan menyebut dua nama tersebut, informasi yang diberikan hanya semua tim di Stetoskoop bukan berasal dari lingkup kesehatan, melainkan orang yang peduli dengan informasi rumah sakit yang masih aktif di seluruh Indonesia.



Layanan ini berada di bawah lisensi PT Maximillian Medika Indonesia dan merupakan sister company dari Maximillian Indonesia. Startup lainnya yang berada di bawah lisensi Maximillian adalah Kesles dengan layanan keuangan.

Dengan direktori rumah sakit yang dimiliki, Denistya mengaku bahwa Stetoskoop tidak mengutamakan revenue. Deretan informasi rumah sakit yang berada di dalamnya juga tidak ditarik biaya sama sekali, alias gratis.

“Memang layanan ini ditujukan untuk social project, bukan untuk mencari keuntungan,” terang Denistya.

Lebih lanjut ia menuturkan bila pihaknya juga tidak ada afiliasi dengan rumah sakit mana pun. Sistem marketing yang dilakukan juga berupa riset mendalam informasi layanan kesehatan keseluruhan dari rumah sakit. Sedangkan untuk informasi dokter, menurut Denistya, kebanyakan rumah sakit menilai informasi tersebut rahasia dan tidak bisa diedarkan secara bebas.

Tidak mencari keuntungan, bukan berarti Stetoskoop tidak punya rencana jangka panjang. Untuk 2016, Denistya mengatakan bahwa tim akan fokus untuk memperbanyak active user terlebih dahulu. Active user yang dimaksud adalah orang-orang yang memberi feedback atas informasi rumah sakit yang diberikan.

“Feedback dari pengguna menjadi pedoman poin-poin yang harus ditambahkan atau dikurangi untuk perkembangan selanjutnya. Ini juga menjadi tolak ukur yang dibutuhkan masyarakat untuk layanan kesehatan,” jelasnya.

Dikutip : Techinasia

Tulungin, Tawarkan Bantuan Pencarian Tukang Servis Terpercaya

Mencari tukang servis berkualitas memang tidak selalu mudah. Salah satu layanan yang bisa kamu coba adalah Tulungin, platform ini akan mengirimkan teknisi ke rumah pelanggan yang membutuhkan bantuan untuk memperbaiki AC, kulkas, pipa, dan listrik yang rusak atau bermasalah.

“Tulungin dibuat untuk memudahkan kehidupan sehari-hari orang-orang yang sulit mencari tukang yang jujur, terpercaya, dan berkualitas”, ungkap Calvin Ng Tjioe, Co-Founder Tulungin kepada Tech in Asia.

Ide pembuatan platform ini dimulai oleh Calvin bersama Fandi Setiawan (CEO) dan Nathan Harry (CMO). Namun sekarang tim Tulungin bertambah dua orang lagi, yaitu Lorens Basuki (Design) dan Yosef Samuel (Technical).

Meski belum resmi diluncurkan, platform yang masih dalam versi Beta ini sudah bisa diakses secara terbatas. Calvin mengklaim total member yang sudah bergabung sampai saat ini baru mencapai 30 orang. Meski begitu, Tulungin juga sudah merilis aplikasi Android, namun masih sebatas hanya untuk testing internal.

“Sekarang kami masih private testing, jadi hanya dari kalangan orang-orang terdekat dulu”, jelas Calvin. Ia menambahkan, pelayanan yang tersedia untuk saat ini pun baru untuk memperbaiki AC saja.

Fitur sederhana yang ditawarkan oleh Tulungin adalah kemudahan untuk melakukan pemesanan. Mudah karena pemesananan disesuaikan dengan wilayah tempat tinggal. Dengan begitu, Tulungin dapat memberikan respon cepat, baik itu saat servis pertama kali maupun jadwal servis selanjutnya.

Tarif untuk cuci AC sebesar Rp50.000, jasa service AC Rp100.000, dan instalasi AC dikenakan Rp250.000. Harga tersebut belum termasuk suku cadang AC yang digunakan pelanggan.


Dengan menjanjikan jaminan keamanan dan teknisi berkualitas, Tulungin menemukan tantangan dalam melakukan kerja sama dengan Penulung, yaitu para tukang yang menjadi mitra mereka. Karena tentunya mereka tidak bisa sembarangan menerima siapa saja. Hanya mereka yang terbukti berkualitas dan jujur saja yang bisa menjadi mitra. Calvin menuturkan,

"Kami juga harus menyamakan standar semua Penulung, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan."

Sedangkan tantangan yang dihadapi oleh Tulungin dalam akuisisi pelanggan adalah merubah kebiasaan pelangan yang biasanya memesan teknisi tidak melalui internet dan meyakinkan pelanggan bahwa Penulung yang disediakan Tulungin berkualitas.

Jika nanti saat meluncur Tulungin baru melayani reparasi AC, kulkas, pipa, dan listrik saja, platform ini berencana memperluas ke layanan lainnya. Namun, sebelum itu, mereka mengaku akan melakukan validasi pasarnya terlebih dahulu.

Tulungin bukan startup pertama yang bermain pada kategori ini. Beberapa situs yang sudah lebih dulu menyediakan layanan serupa adalah Carijasa dan Seekmi.

Dikutip : Techinasia

Qlapa.com, "Rumah" Bagi Produk Kerajinan Tangan Lokal

Qlapa.com
Animo masyarakat Indonesia terhadap produk kerajinan tangan atau handmade semakin meningkat. Hal tersebut terbukti dengan hadirnya berbagai solusi online yang mendukung industri tersebut, salah satunya adalah Qlapa.com. 
Qlapa adalah situs marketplace online khusus untuk produk handmade buatan para pengrajin asal Indonesia.
Melalui situs tersebut, pengguna dapat membeli produk handmade langsung dari pembuatnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Resmi beroperasi mulai 1 November lalu, Qlapa menawarkan ribuan produk kerajinan tangan yang berasal dari ratusan penjual lokal.
Menurut Benny Fajarai, CEO dan Co-founder Qlapa, perusahaan rintisan digital (startup) ini didirikan untuk membantu membenahi industri kerajinan tangan di Indonesia.
Dikatakannya, Qlapa ingin menyediakan suatu tempat yang bisa dituju oleh seluruh pengrajin lokal di Indonesia. Harapannya, para pengrajin bisa berjualan bersama di satu tempat dengan sistem yang sesuai dengan mereka.
Sementara itu, kalangan konsumen bisa mencari produk yang dibutuhkan dengan nyaman dan mudah di satu tempat.
"Melalui Qlapa, kami juga berharap kerajinan lokal Indonesia dapat menjangkau pasar yang lebih luas baik skala nasional maupun internasional," tulis Benny dalam keterangan pers yang KompasTekno terima, Senin (23/11/2015).  
Nantinya, setiap transaksi di Qlapa akan menggunakan sistem yang diotomisasi dan menggunakan rekening bersama. Tujuannya, pembeli bisa melakukan transaksi dengan lebih nyaman dan aman.
Selain itu, sistem ini juga dilengkapi dengan penghitungan ongkos kirim dan manajemen pemesanan yang rapi.
Fitur-fitur lain di Qlapa juga dibuat sedemikian rupa agar sesuai dengan perilaku jual beli produk handmade yang sering terjadi. Di sini penjual bisa menawarkan variasi produk jika produknya punya banyak variasi warna.
Ada juga fitur kustomisasi yang memungkinkan penjual menerima pesanan custom dari penjual. Penjual juga bisa menerima pesanan dalam bentuk pre-order jika penjual tersebut memang hanya membuat produk handmade-nya berdasarkan pesanan saja.

Jebolan Silicon Valley
Selain Benny, Qlapa juga digawangi oleh seorang engineer andal bernama Fransiskus Xaverius. Ia sendiri merupakan jebolan atau lulusan dari perusahaan teknologi asal Silicon Valley, seperti Google.
Selain itu, selama lima tahun karirnya di Amerika Serikat, Fransiskus pernah bekerja di BlackBerry, Zynga, Castlight, dan Homejoy.
Benny dan Fransiskus bertemu di awal tahun 2014 dan sering mendiskusikan berbagai macam hal dan bertukar ide. Baru di awal tahun 2015, Frans, panggilan akrabnya, memutuskan kembali ke Indonesia untuk mengembangkan Qlapa sebagai CTO.
“Tinggal dan bekerja di Silicon Valley memang jauh lebih baik. Sebagai engineer, kompensasi dan peluang karir memang sangat besar di US. Namun, saya bisa melihat bahwa Indonesia berkembang dengan sangat pesat. Ada banyak masalah yang dapat diselesaikan dan ada banyak peluang yang dapat dikembangkan dengan teknologi,” kata Frans menjelaskan alasannya untuk kembali ke Indonesia.  
“Saya sendiri selalu ingin kembali dan berkontribusi untuk Indonesia. Yang membuat saya tertarik untuk membangun Qlapa adalah misi kami untuk memberdayakan kreativitas lokal dengan teknologi,” pungkasnya.

Dikutip : Kompas

5 Teknologi Yang Harus Dimiliki Untuk Membangun "StartUp"

Perkembangan teknologi internet banyak mempengaruhi tren bisnis di tanah air. Saat ini perusahaan rintisan digital atau startup, usaha kecil menengah atau UKM, dan perusahaan besar berlomba-lomba memanfaatkan teknologi informasi untuk mengembangkan bisnis.
Hal itu tidak aneh, mengingat pengguna internet memang termasuk pasar menjanjikan. Menurut lembaga riset pasar e-Marketer, populasi netter dalam negeri mencapai 83,7 juta orang pada 2014. Angka ini diperkirakan akan melambung hingga 112 juta pada 2017 nanti.
Tak pelak, jika berniat menggaet pasar di dunia maya, pelaku usaha wajib mulai membenahi kebutuhan teknologi internalnya untuk menyokong kelancaran bisnis. Bagi perusahaan bermodal besar, menyediakan perangkat teknologi mungkin bukan hal sulit.
Berbeda dengan perusahaan startup yang baru berkembang, perangkat teknologi harus dipilih dengan sebaik-baiknya. Sebagai pertimbangan, seperti dikutip Huffingtonpost.com, setidaknya lima teknologi berikut ini wajib dimiliki semua startup:

Go mobile
Pada 2017 nanti jumlah belanja online lewat perangkat ponsel pintar dan tablet diperkirakan akan mencapai 114 miliar dollar AS atau setara Rp 1.552 triliun. Sudah bukan rahasia umum bahwa sebelum membeli produk atau jasa tertentu, kebanyakan calon pembeli memanfaatkan ponsel pintar untuk menggali informasi.
Namun  begitu, tak semua pebisnis startup memiliki situs internet yang bisa diakses lewat gawainya. Setidaknya, sekitar 93 persen situs milik UKM dan startup hanya bisa dibuka pada perangkat komputer.
Sebagai catatan penting, karena pasar mobile phone begitu besar, pebisnis tak perlu ragu lagi berinvestasi membuat situs yang bisa dengan nyaman ditelusuri para pelanggannya, apapun gawai yang mereka pakai.

Kemudahan pembayaran
Pada 2013 lalu sekitar 15 persen orang di dunia melakukan pembayaran lewat ponsel pintar. Penelitian menunjukkan, orang-orang tipe ini tidak ragu menghabiskan banyak uang untuk berbelanja.
Tak heran, kini banyak pebisnis mulai merambah ke pembayaran secara mobile. Saat ini, ada 220 ribu vendor menawarkan Apple Pay sebagai alat pembayaran.
Namun, kendati demikian, tak perlu mengikuti jejak mereka. Anda bisa melakukan investasi di bidang ini secara hati-hati sesuai kebutuhan pasar. 

Keamanan cyber
Jangan sepelekan kualitas keamanan data bisnis. Laporan perusahaan telekomunikasi asal AS, Verizon, menunjukkan setidaknya ada 63.000 kasus pelanggaran keamanan komputer pada 2013 lalu. Dari angka itu, sekitar 40 juta konsumen pengguna kartu kredit dan debit menjadi korban.
Caranya beragam, tergantung industri yang menjadi target. Sebagai contoh, dalam industri pembiayaan (finansial), 75 persen serangan melibatkan aktivitas peretasan aplikasi web dengan meluncurkan DDoS (Distributed Denial of Service) untuk mengelabui server.
Teknik lainnya adalah card skimming. Ini adalah teknik penyerangan untuk mendapatkan data dari alat pemindai kartu kredit atau debit.

Aktif di media sosial
Kini, perusahaan dituntut mampu berinteraksi dengan konsumen lewat media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Pinterest, dan lainnya. Tentu saja tak perlu berinvestasi pada semua jenis media secara bersamaan.
Namun, ada baiknya sesuaikan dengan kebiasaan target konsumen. Kebanyakan startup terobsesi menggunakan banyak media, namun tak siap untuk mengelolanya dengan maksimal.
Setidaknya, berinvestasilah pada sumber daya manusia yang khusus mengurusi komunikasi lewat media sosial. Selain itu, walaupun harus merogoh kocek lebih, jadwalkan servis untuk melakukan pelacakan. Data ini akan menjadi senjata penting untuk mengetahui kebiasaan target konsumen.

Penyimpanan data
Berdasarkan data Sharing Vision, saat ini kebutuhan layanan pusat data di Indonesia mendekati 150.000 meter (raised floor). Diprediksi, pasar pusat data akan tumbuh 20-30 persen hingga 2017.
Perlu diketahui, kebutuhan penyimpanan data besar tidak melulu diperuntukkan bagi perusahaan skala besar. Segala informasi yang berhubungan dengan konsumen, produk, dan jasa bisa menjadi dasar analisa pasar untuk mengembangkan bisnis, termasuk startup.
Tak perlu khawatir. Jika jeli memilih, membangun infrastruktur pusat penyimpanan data terpusat tidak selalu mahal. Pertimbangan paling penting adalah luas tempat penyimpanan, kebutuhan pendinginan dan daya, juga keamanan.
Tak hanya itu. Penyimpan data (storage) harus bisa beroperasi tanpa konfigurasi rumit. Operasional dan pemeliharaan pun harus dipilih yang paling mudah dan tak mahal.
Selain itu, sistem penyimpanan data harus bisa dikembangkan sesuai perluasan bisnis sehingga tidak memerlukan perombakan besar-besaran ketika kebutuhan data semakin tinggi. Artinya, startup membutuhkan storage berdesain ramping agar penambahan data tidak memerlukan penambahan ruangan.
Untuk kebutuhan itu, kini banyak vendor yang menyediakan storage sesuai kebutuhan bisnisnya. Contohnya Lenovo yang menawarkan dua pilihan, yaitu tipe S2200 untuk entry SAN dan S3200 untuk kebutuhan data lebih besar.
Sebagai perbandingan, S2200 bisa mendukung koneksi 96 drive sedangkan S3200 mampu mendukung hingga 192 drive. Anda tinggal memilih mana yang paling cocok dengan kebutuhan penyimpanan data bisnis Anda.

Dikutip : Kompas

Wavoo, Aplikasi Online Dating Karya Lokal

Startup di Indonesia secara perlahan mulai menunjukkan taringnya di Indonesia. Salah satu startup yang jarang dilirik orang adalah aplikasi online dating.
 
Copyright © 2013 Info Teknologi