Berita Terbaru

Mobile

Marketing

Internet

Bukti Xiaomi Mi5 Tidak Mempan Digergaji, Dipaku, dan Dibor

Ponsel Android terbaru Xiaomi, Mi5 Pro ternyata memiliki ketahanan yang luar biasa. Hal tersebut terbukti dari video "penyiksaan" yang dilansir oleh seorang YouTuber bernama Alex Wang.

Mi5 sendiri baru dirilis pada Mobile World Congress 2016 di Barcelona pada 24 Februari lalu. Di ajang tersebut, Xiaomi memperkenalkan beberapa versi smartphone, termasuk Mi5 Pro.

Selain memiliki spesifikasi yang paling atas, Mi5 Pro memiliki keunggulan dari segi material tubuh. Bagian belakang perangkat tersebut dilengkapi dengan cangkang berbahan keramik.

Xiaomi menyatakan bahan tersebut sangat keras hingga mampu menghindarkan perangkat dari goresan akibat tergesek benda keras. Nah, klaim itulah yang berusaha dibuktikan oleh Wang, dalam video yang dikerjakannya itu.

Di video tersebut, Wang tampak cukup sadis menyiksa Mi5 Pro ini. Sebagaimana KompasTekno rangkum dari Phone Arena, Kamis (31/3/2016), Wang berusaha menggores bahan keramik tersebut dengan menggunakan kunci, paku, hingga gergaji.

Menariknya, cangkang bagian belakang itu masih mampu bertahan, tidak mengalami "luka" atau tergores sedikit pun.

Setelah itu, Wang semakin "menggila". Ia memutuskan untuk mengebor perangkat tersebut. Hasilnya? Mi 5 Pro ternyata tetap mampu bertahan, tanpa ada bekas goresan sedikit pun.

Dikutip : Kompas

Ini Rahasia Developer Lokal Perluas Bisnis ke Ranah Global

Salah satu tantangan bagi pengembang aplikasi lokal adalah mengekspansi bisnis ke ranah global. Pasalnya, kondisi sosial, budaya, dan ekonomi di pasar lokal berbeda dengan global.

Pun begitu, nyatanya beberapa produk lokal mampu mendulang sukses di kancah internasional.

Tiga di antaranya adalah aplikasi edit foto "PicMix" buatan Inovidea Magna Global, game balap "Mini Racing Adventures" buatan Minimo, dan game nuansa kuliner "Ramen Chain" buatan Touchten.

Punya rating tinggi

Saat ini PicMix sudah diunduh 5 juta kali lewat toko aplikasi Google Play Store. Lebih dari 114 ribu pengguna mengulas aplikasi tersebut dan menghasilkan rating 4,2.

Jumlah pengunduh yang sama juga diraup Mini Racing Adventures. Lebih dari 100 ribu pengguna mengulas game tersebut dan terbukti cukup puas karena berhasil mencapai rating 4,3.

Tak kalah, Ramen Chain pun menghimpun rating 4,2 dari sekitar 42 ribu pengguna yang mengulas. Game tersebut telah diunduh satu juta kali di perangkat Android.

Lantas, apa strategi ketiganya meraup basis pengguna global?

Menurut CEO Touchten Anton Soeharyo, jika dari awal berambisi memboyong produk untuk pasar internasional, maka bungkusan produk harus menarik di mata global.

Ia mencontohkan konsep Ramen Chain. Nama game tersebut sudah mengindikasikan unsur budaya Jepang.

Seperti diketahui, Jepang adalah salah satu negara dengan budaya mengglobal layaknya Amerika, China, dan Korea Selatan. Dengan begitu, pasar internasional lebih mudah menerima produk yang ditawarkan. Tapi tetap ada unsur lokal yang disisipkan di dalam game.

"Misalnya ada nasi goreng juga di dalam game. Jadi untuk kulitnya kami gunakan pendekatan global, tapi ada unsur lokal yang melengkapi," kata Anton dalam acara "Google for Mobile" di Ballroom Hotel Sheraton, Mal Gandaria City, Jakarta. Hal tersebut disepakati pendiri Minimo Agung Subagyo.

Kualitas produk juga penting

Namun tanggapan berbeda datang dari CEO Inovidea Magna Global Calvin Kizana. Menurut dia, hal paling penting adalah kualitas produk. Dari awal, Calvin dan timnya tak punya ambisi muluk-muluk soal PicMix.

"Target pasar kami cuma orang Indonesia karena kami mau benar-benar lokal. Tapi tiba-tiba viral sampai ke luar negeri. Kami bisa bilang ini keberuntugan," kata dia pada kesempatan yang sama.

"Ini juga karena kami yakin produk kami berkualitas global. Memang kualitas yang paling penting," ia menambahkan.

Jangan lupakan SEO

Selain dari konten produk, ketiganya sepakat bahwa SEO alias "search engine optimization" memegang peran penting untuk mengakuisisi basis pengguna (user acquisition).

Anton mengatakan 90 persen basis pengguna game buatan Touchten datang dari keyword pencarian di laman Google.

Agung mengiyakan hal tersebut. Minimo tak segan menggelontorkan dana lebih untuk mengoptimalkan exposure produk mereka bagi khalayak maya.

Meski "Mini Racing Adventures" sudah diunduh 5 juta kali, timnya masih terdiri dari dua anggota dan berkantor di kamar kosan. Ia menganggap kurangnya SDM sebagai tantangan besar.

Pun begitu, alokasi dana yang dimiliki terlebih dulu harus digelontorkan untuk menarik minat pengguna dengan SEO. "Kami optimalkan kualitas produk dan juga analitik di Google," ujarnya.

Bak selai dan roti, SEO atau strategi pemasaran yang baik memang harus dikombinasikan dengan produk yang berkualitas. SEO membuat khalayak mengetahui keberadaan sebuah produk. Tapi untuk membuat khalayak bertahan, kualitas produk yang paling menentukan.

Dikutip : Kompas

Spotify Sudah Bisa Diakses di Indonesia

Sesuai dengan janjinya, layanan streaming musik Spotify akhirnya bisa diakses di Indonesia pada hari ini, Rabu (30/3/2016).

Pengguna di Indonesia kini bisa mengunduh aplikasi Spotify di berbagai gadget milik mereka, seperti Android, iOS, komputer desktop, dan Playstation. Selain itu juga bisa mendengarkan langsung melalui halaman web streaming-nya.

Pantauan KompasTekno, setelah memasang aplikasinya melalui Google Play, pengguna akan disambut dengan sejumlah daftar lagu. Salah satunya dibalut boks bertajuk “Waktunya Spotify” yang berisi berbagai lagu Indonesia populer.

Aplikasi over the top (OTT) asal Swedia ini juga sudah mencantumkan harga berlangganan di Indonesia. Mereka mematok harga Rp 50.000 per bulan.

Hal menarik dari pembayaran tersebut adalah sistemnya yang cenderung berbeda dengan layanan OTT lain. Spotify menawarkan metode pembayaran transfer ATM, internet banking, online payment Doku Wallet hingga membayar melalui jaringan toko waralaba Alfamart.

Ya, khusus pengguna di Indonesia bisa membayar biaya berlangganan tersebut melalui Alfamart. Layaknya membayar cicilan kredit motor atau membeli pulsa saja.

Selain metode yang disebutkan di atas, Spotify juga menawarkan pembayaran menggunakan kartu kredit. Khusus untuk pengguna yang memilih metode kartu kredit akan memperoleh bonus gratis berlangganan Premium selama 30 hari.

Kehadiran Spotify di Indonesia meramaikan persaingan layanan streaming musik. Seperti diketahui, selain aplikasi yang identik dengan warna hijau ini, ada juga iTunes Music, Joox, Langit Musik dan Guvera.

Aplikasi Spotify bisa diunduh melalui Google Play Store, Apple App Store, atau melalui PC.

Dikutip : Kompas

"Google for Mobile" Mau Latih 100.000 Pengembang Lokal

Pemerintah hendak mencetak 1.000 teknopreneur hingga 2020 mendatang. Meski tak berafiliasi langsung, Google juga mematok target ambisius yang berkenaan dengan rencana itu.

Raksasa mesin pencari tersebut ingin melatih 100.000 pengembang aplikasi seluler alias "mobile developer" di Tanah Air hingga 2020 mendatang. Hari ini, Kamis (31/3/2016), langkah pertama Google dimulai dengan menggelar acara bertajuk "Google for Mobile".

Selama sehari, para pengembang aplikasi dan game lokal diajak berdiskusi dan belajar dari para ahli produk Google, pemimpin industri, dan sesama pengembang lokal maupun luar negeri yang telah sukses.

Acara yang dihadiri ratusan pengembang lokal tersebut digelar sejak pukul 9 pagi hingga 5 sore nanti di ballroom Hotel Sheraton, Mal Gandaria City, Jakarta. Tak ada pungutan biaya bagi peserta yang hendak menambah wawasan di acara tersebut.

Para peserta diharapkan mampu memperoleh tips dan trik terbaik tentang bagaimana membuat produk yang bermutu, berinteraksi dengan pengguna, dan mengembangkan bisnis mobile.

Alasan di balik rencana Google

Inisiasi Google melatih 100.000 pengembang lokal bukan tanpa alasan. Pasalnya, Indonesia merupakan salah satu pasar utama sistem operasi mobile Android buatan Google. Ponsel pintar tak ubahnya benda vital yang setia menemani masyarakat modern Indonesia tiap harinya.

Menurut Head of Marketing Google Indonesia Veronica Utami, pasar aplikasi dan game di Indonesia sedang berkembang pesat. Ribuan pengembang lokal menciptakan aplikasi mobile dan jutaan orang menginstal aplikasi di smartphone untuk memudahkan hidup mereka.

Beberapa pembicara yang hadir pada "Google for Mobile" antara lain Head of Business Development Google Kunal Soni, Director Market Insight Google APAC Georges Mao, dan Business Development Manager Google Play David Yin.

Adapun pembicara dari jejeran pengembang antara lain CEO Inovidea Magna Global Calvin Kizana, CEO Touchten Games Anton Soeharyo, CEO Halfbrick Studios Shainiel Deo, dan masih banyak lagi.

Dikutip : Kompas

Go-Jek Bersiap Luncurkan Go-Car

Start up transportasi asal Indonesia, Go-Jek, berencana memperluas layanannya dengan menyediakan moda transportasi sewaan berbasis kendaraan roda empat (mobil). Layanan itu akan diberi nama Go-Car.

Kabar tersebut datang dari Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Andri Yansyah.

Menurut Andri, seperti dikutip KompasTekno dari The Jakarta Globe, Kamis (31/3/2016), Go-Jek sedang menyiapkan sistem yang sama dengan yang dipakai oleh Grab.

"(Go-Jek) menanyakan syarat bagaimana prosedur untuk membuat Go-Car, mereka berencana bekerja sama dengan perusahaan taksi, saya bilang silakan saja," kata Andri sehari setelah bertemu dengan CEO Go-Jek, Nadiem Makarim.

Menurut Andri, Go-Jek hanya perlu membicarakan rencananya itu dengan perusahaan taksi dan Organda untuk berdiskusi soal tarif.

"Kami akan mempelajari hasil studinya dan memberi izin saat semuanya beres," kata Andri.

Dikatakan oleh Andri, Go-Jek tidak perlu lagi membuat badan hukum atau mengurus izin baru karena operator-operator taksi yang akan diajak bekerja sama telah memilikinya.

Layanan taksi berbasis aplikasi belakangan kian marak di Indonesia. Selain Grab, Uber juga diketahui memiliki layanan tersebut. Keduanya sempat mendapatkan penolakan dari pelaku di industri taksi konvensional.

Pada akhirnya, pemerintah mengambil jalan tengah dengan meminta agar setiap start up transportasi yang beroperasi di Indonesia harus memiliki badan usaha tetap atau bekerja sama dengan perusahaan/koperasi lokal yang sudah memiliki badan hukum sehingga bisa dikenai pajak.

Dikutip : Kompas

Yahoo Lepas Bisnis Web, Pembeli Ditunggu Sebelum 11 April

Yahoo mengumumkan rencana untuk menjual unit bisnis web dan beberapa asetnya di wilayah Asia. Calon pembeli diminta untuk mengajukan penawaran sebelum tenggat waktu pada 11 April 2016 mendatang.

Seorang sumber membocorkan bahwa penasihat bisnis Yahoo telah meminta para calon pembeli untuk mengirim atau memasukkan proposal pembelian.

Isi proposal tersebut kurang lebih daftar aset yang diminati, harga yang ditawarkan, hingga metode pembayaran.

Sebagian calon pembeli bisa jadi akan tertarik untuk memiliki inti bisnis web Yahoo atau beberapa bagiannya saja. Sedangkan yang lain mungkin berminat pada saham grup Alibaba atau Yahoo Jepang.

Sebagaimana dilansir KompasTekno dari Wall Street Journal, Kamis (31/3/2016), salah satu pionir mesin pencari web itu juga akan menjual kurang lebih 40 perusahaan kecil yang ada di bawahnya.

Perusahaan yang dimaksud antara lain Verizon Communication Inc., InterActiveCorp (IAC), dan Time Inc. Ada juga perusahaan investasi swasta TPG dan KKR & Co.

Microsoft siap bantu

Bocoran lain menyebutkan bahwa Microsoft sudah berniat membantu pendanaan bagi perusahaan yang ingin membeli Yahoo. Tujuannya agar raksasa software tersebut bisa tetap mendapat keuntungan dari kerja sama dengan Yahoo, seandainya perusahaan tersebut dijual ke pihak ketiga.

Bila deadline penawaran tersebut lancar, proses penjualan Yahoo bisa saja selesai pada Juni atau Juli mendatang. Dengan demikian, akan bertepatan dengan jadwal pertemuan tahunan para pemegang saham.

Proses penjualan Yahoo ditangani oleh sebuah dewan independen yang terdiri dari Chairman Maynard Webb, Thomas McInerney, dan H. Lee Scott, Jr.

Chief Executive Officer Yahoo Marissa Mayer tidak diperkenankan ikut serta dalam dewan tersebut. Hal ini demi mengantisipasi kemungkinan dirinya ikut mengajukan tawaran melalui perusahaan investasi swasta.

Dikutip : Kompas
 
Copyright © 2013 Info Teknologi